Dunia tak selebar daun kelor
Oleh :
DINO ARIES FAHRIZAL
Yup! Dunia ini faktanya memang tak selebar daun kelor. Tapi kita pernah merasakan dunia ini terasa begitu sempit, bahkan untuk bernapas saja rasanya sulit. Dunia ini penuh warna, tapi seringkali dilihat hanya warna suramnya, menyampingkan keindahan yang sebenarnya. Keindahan itu terbentuk karena adanya perpaduan sejumlah molekul yang berbeda. Ya, keindahan itu ada karena adanya perbedaan, namun seringkali kita temui ada saja orang yang menganggap perbedaan sebagai sesuatu yang hina, layaknya barang buangan, hanya layak berada di dasar tong sampah. Maka dengan pandangan seperti itu, keindahan yang tercipta dari perbedaan itu akan sulit untuk dinikmati.
Mengapa hal itu bisa terjadi???
Seperti disinggung di atas, yang menyebabkannya adalah paradigma atau cara pandang kita terhadap sesuatu. Cara kita melihat “ke luar” tergantung bagaimana kita melihat “ke dalam”. Sederhananya, jika kita memandang diri kita tak layak dihargai, maka kita akan melihat setiap orang dengan mata curiga, sinis, dan over-protective terhadap diri sendiri. Jadinya, setiap pesan yang disampaikan orang kepada kita melalui komunikasi sehari-hari ditanggapi sebagai upaya setiap orang untuk merendahkan kita. Orang dengan kondisi seperti ini kita kategorikan sebagai mereka yang terbiasa berpikir negatif/berburuk sangka.
Sebaliknya ada orang dengan kategori terbiasa berpikir positif/berbaik sangka. Mereka memandang dirinya sebagai pembelajar, sehingga apapun yang terjadi di luar dianggap sebagai proses belajar seumur hidup (long life education). Kegagalan misalnya, tidak akan menjadikan mereka sedih berkepanjangan namun justru akan menjadi pelecut semangat untuk melakukan dengan cara yang lebih baik lagi pada kesempatan berikutnya. Tiada keberhasilan tanpa kegagalan. Kegagalan adalah bagian dari proses menuju keberhasilan, selama itu membuat kita menjadi lebih baik dari sebelumnya. Karenanya mereka tidak pernah takut untuk mencoba hal-hal baru atau tantangan yang belum pernah mereka temui. Setidaknya dengan mencoba, kita memperoleh peluang berhasil dan kegagalan sekaligus. Sedangkan ketidakberanian untuk mencoba memang akan menghindarkan dari kegagalan, sekaligus juga menghidari keberhasilan.
Sehingga dengan memiliki kebiasaan berpikir positif, dunia terasa begitu luas dan begitu indah. Jika pun sesekali ada mendung dan badai, maka kita selalu yakin akan ada pelangi yang indah setelahnya.
Kebiasaan berpikir positif tidak dapat dijalani hanya dengan mempelajari, namun juga harus dibuktikan dengan melewati ujian hidup sehari-hari. Contoh kecil, misalnya menahan diri untuk tidak terbiasa mengeluh, namun mencoba melihat sisi positif dari berbagai kejadian yang tidak sesuai dengan harapan kita. Dengan terbiasa melihat dunia seperti itu, maka dunia pun akan menampakkan keindahannya. Rhonda Byrne yang terkenal dengan karyanya “The Secret” menjelaskan tentang hukum tarik-menarik di alam semesta, bahwa pikiran kita akan menarik apapun yang ada di sekeliling kita untuk menjadikannya nyata. Jika kita selalu berpikir bahwa setiap hari adalah keberuntungan dan kesuksesan, maka alam dengan mekanisme rahasianya akan menangkap sinyal dari gelombang pikiran kita untuk kemudian mengirimkan balasan berupa setiap kejadian yang akan mewujudkannya. Demikian pula sebaliknya, jika kita berpikir bahwa setiap hari adalah kesedihan, tanpa harapan dan kehampaan. Maka alam semesta akan mewujudkannya.
Terdengar seperti kisah Aladin dan lampu ajaibnya..? Mungkin, iya. Hebatnya, kita tidak terbatas hanya memiliki 3 permintaan, namun kita memiliki permintaan yang tak terbatas. Maka pesannya adalah HATI-HATI DENGAN PIKIRAN. Kita lah yang harus mengendalikan pikiran, mengarahkannya ke arah yang positif, tidak membiarkannya liar dan tak terkendali.
Dunia ini tidak butuh penilaian apapun dari kita. Ia berada dalam kondisi netral, pikiran kita lah yang membuat penilaian. Dunia hanya memantulkan apa yang ingin kita lihat, menggemakan apa yang ingin kita dengar. Bila kita berani menghadapi dunia, sesungguhnya kita berani menghadapi diri sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar