Persiapan
Untuk memberi bayi ASI perahan, jauh-jauh hari sebelum masa cuti berakhir ibu memang harus menyiapkan diri sendiri dan bayi. Apalagi jika si buah hati merupakan anak pertama. Beratnya meninggalkannya memang luar biasa. Apalagi siang hari tak bersamanya dan tak menyusuinya pasti berat. Di kantor, saat payudara bengkak karena produksi ASI tak disusu bayi, ingatan ibu pastilah pada buah hati di rumah.
Mempersiapkan diri sendiri menjadi penting. Pertama, adalah mempersiapkan mental untuk meninggalkan bayi dan memupuk rasa percaya bahwa ia akan baik-baik saja di rumah. Kedua, persiapan dengan mulai belajar memerah dua minggu sebelum cuti berakhir. Ketika bayi tidur dan payudara mulai terasa membengkak, segera perahlah payudara lalu simpan di kulkas. Esok siang, ASI perah tersebut bisa ibu berikan pada bayi.
Tetap memberi ASI selama ibu bekerja di kantor berarti ibu harus memupuk kerjasama dengan pengasuh. Ini bukan hal mudah. Apalagi jika yang ibu percayai merawatnya adalah orangtua sendiri atau mertua. Kalau mereka tidak punya pemahaman yang sama tentang pemberian dan manfaat ASI eksklusif, ditambah pengalaman mereka dulu mungkin menyusui sambil dicampur susu atau makanan padat, akan sedikit menyulitkan. Tapi, jangan menyerah. Pelan-pelan jelaskan sama ibu atau ibu mertua tentang pentingnya ASI eksklusif, dan bahwa usus bayi belum siap mencerna makanan. Begitu juga jelaskan pada pengasuh, kerjasama orangtua dengan pengasuh di rumah ini juga menentukan keberhasilan menyusui secara eksklusif.
Sedangkan untuk mempersiapkan bayi, ibu harus memulai membiasakan bayi diberi ASI perahan dengan sendok, bukan botol susu, apabila bayi masih terlalu kecil. Memang di hari-hari pertama pemberian susu perah dengan sendok, bayi mungkin menolaknya. Ia bahkan bisa cemas dan gelisah. Namun, janganlah khawatir, 3 atau 4 hari setelahnya bayi akan terbiasa. Itu sebabnya, sebelum masa cuti berakhir bayi perlu dilatih disuapi susu dengan sendok. Jadi, tak perlu resah jika harus kembali bekerja, bukan?
Memerah ASI dengan Tangan
Memerah ASI bukanlah hal yang sulit, bahkan tidak selalu membutuhkan alat khusus atau pompa ASI. Cukup dengan pijitan dua jari sendiri, ASI bisa keluar lancar! Kegiatan ini memang membutuhkan waktu, yakni masing-masing payudara 15 menit.
Cara back to nature ini amat sederhana dan tak perlu biaya. Namun agar hasil perahannya memuaskan, kita perlu mengenal sedikit anatomi payudara.
Payudara terdiri tiga komponen yang prinsipil, yaitu “pabrik” (di daerah dada berwarna putih), saluran, dan “gudang” (di daerah warna cokelat atau areola) ASI. Ketiganya seperti bejana berhubungan. “ASI diproduksi di ‘pabrik’nya yang berbentuk seperti kumpulan buah anggur. Setiap ‘pabrik’ ASI dilalui otot-otot. Bila otot-otot ini mengkerut, ia akan memompa ASI ke salurannya menuju ‘gudang’. Nah, agar pabrik memproduksi ASI lagi, syarat utamanya ASI di ‘gudang’ harus habis lebih dulu. Bila ‘gudang’ kosong, barulah ‘pabrik’ akan mengisinya kembali, begitu seterusnya.
Sebenarnya memerah ASI hampir sama dengan mengeluarkan pasta gigi. Bila kita hanya menekan ujung pasta gigi, tentu pastanya tak akan keluar. Jadi, kita harus menekan agak ke belakang. Bila tak keluar banyak, kemungkinan teknik ibu salah. Mungkin cara memerah susunya seperti melakukan massage payudara. Ini tak akan mengeluarkan ASI, karena yang ditekan pada massage payudara adalah ‘pabrik’ ASI bukan ‘gudang’nya. Kan, kita tak bisa langsung mengeluarkan ASI dari ‘pabrik’ tapi harus melalui ‘gudang’ dulu.” Jadi, bila tekniknya sudah benar, lama-kelamaan memerah ASI akan menjadi pekerjaan biasa. Waktu yang dibutuhkan pun tak sampai setengah jam, tapi susu yang terkumpul bisa mencapai 500 cc.
Jadi, pada prinsipnya kita harus bisa mengeluarkan ASI yang ada di “gudang”. Caranya, tempatkan tangan kita di salah satu payudara, tepatnya di tepi areola. Posisi ibu jari terletak berlawanan dengan jari telunjuk. Tekan tangan ke arah dada, lalu dengan lembut tekan ibu jari dan telunjuk bersamaan. Pertahankan agar jari tetap di tepi areola, jangan sampai menggeser ke puting. Ulangi secara teratur untuk memulai aliran susu. Putar perlahan jari di sekeliling payudara agar seluruh saluran susu dapat tertekan. Ulangi pada sisi payudara lain, dan jika diperlukan, pijat payudara di antara waktu-waktu pemerasan. Ulangi pada payudara pertama, kemudian lakukan lagi pada payudara kedua. Letakan cangkir bermulut lebar yang sudah disterilkan di bawah payudara yang diperas.
Kunci memerah ASI dengan tangan adalah menemukan posisi jari-jari yang tepat. Lakukan latihan sampai menemukan posisi atau tempat yang tepat. Menggabungkan pemerahan ASI dengan tangan dan pengurutan payudara merupakan cara memerah ASI yang efektif.
Teknik Memert
Memerah ASI dengan teknik Marmet awalnya diciptakan oleh seorang ibu yg harus mengeluarkan ASInya karena alasan medis. Awalnya ia kesulitan mengeluarkan ASI dengan refleks yg tidak sesuai dengan refleks keluarnya ASI saat bayi menyusu. Hingga akhirnya ia menemukan satu metode memijat dan menstimulasi agar refleks keluarnya ASI optimal. Kunci sukses dari teknik ini adalah kombinasi dari cara memerah ASI dan cara memijat.
Jika teknik ini dilakukan dengan efektif dan tepat, maka seharusnya tidak akan terjadi masalah dalam produksi ASI ataupun cara mengeluarkan ASI. Teknik in dapat dengan mudah dipelajari sesuai instruksi. Tentu saja semakin sering ibu melatih memerah dengan teknik marmet ini, maka ibu makin terbiasa dan tidak akan menemui kendala.
Dikenal teknik memerah ASI yang disebut teknik Memert, yaitu cara memeras ASI secara manual dan mengutamakan let-down refleks (LDR). Anda sebaiknya dalam posisi santai dan nyaman. Ada sebagian wanita yang minum, mendengarkan musik, memikirkan sang bayi, atau mengamati foto bayinya sebelum memeras dengan maksud membantu melancarkan aliran air susunya.
LDR yaitu saat-saat dimana ASI mengalir deras dan rata-rata para bunda merasakan payudaranya mengencang, merinding ataupun nyut-nyutan. disaat-saat ini ASI akan mengalir deras sehingga memerah akan lebih cepat, caranya:
Setelah tangan dicuci bersih, kitik-kitik ujung puting dengan ibu jari (jangan dipencet, raba halus permukaan puting, untuk merangsang pabrik ASI agar mengalirkan ASI ke gudangnya untuk dikeluarkan. jika payudara mulai terasa merinding atau nyut nyutan segeralah perah ASI nya.
Dengan merangsang LDR di awal proses memerah dapat menghasilkan ASI sebanyak 2-3 kali lipat dibanding tanpa menggunakan teknik ini.
LDR sama dengan rangsangan yang terjadi jika puting dihisap oleh bayi dan setelah beberapa saat tiba2 payudara akan mengencang dan ASI akan keluar deras sehingga bayi harus mempercepat irama menghisap ASI, nah kurang lebih seperti itulah jika efek LDR kita dapatkan. ASI akan tiba-tiba mengalir dengan deras tanpa diperlukan pijatan/ perasan yang sangat kencang.
Memang, ASI dapat diperah dengan mudah tanpa teknik apapun. Namun satu hal yg sering terlupakan adalah teknik yg tidak tepat akan merusak jaringan lemak pada payudara, membuat payudara menjadi lecet. Bahkan kulit payudara bisa menjadi memar atau memerah.
Memerah ASI dengan teknik Marmet awalnya diciptakan oleh seorang ibu yg harus mengeluarkan ASInya karena alasan medis. Awalnya ia kesulitan mengeluarkan ASI dengan refleks yg tidak sesuai dengan refleks keluarnya ASI saat bayi menyusu. Hingga akhirnya ia menemukan satu metode memijat dan menstimulasi agar refleks keluarnya ASI optimal. Kunci sukses dari teknik ini adalah kombinasi dari cara memerah ASI dan cara memijat.
Jika teknik ini dilakukan dengan efektif dan tepat, maka seharusnya tidak akan terjadi masalah dalam produksi ASI ataupun cara mengeluarkan ASI. Teknik in dapat dengan mudah dipelajari sesuai instruksi. Tentu saja semakin sering ibu melatih memerah dengan teknik marmet ini, maka ibu makin terbiasa dan tidak akan menemui kendala.
Keuntungan Memerah ASI dengan Teknik Marmet
Banyak sekali keuntungan memerah ASI dengan teknik marmet. Diantaranya :
Penggunaan pompa ASI relatif tidak nyaman dan tidak efektif mengosongkan payudara.
Banyak ibu telah membuktikan bahwa memerah ASI dengan tangan jauh lebih nyaman dan alami (saat mengeluarkan ASI)
Refleks keluarnya ASI lebih mudah terstimulasi dengan Skin to skin contact (dengan cara memerah tangan) daripada penggunaan pompa (terbuat dari plastik).
Jelas nyaman digunakan
Aman dari segi lingkungan
Portable (mudah dibawa kemana-mana). Tidak mungkin kan ibu lupa membawa tangannya?
Dan yg paling mengasyikkan : GRATIS
Berikut Tahapan persiapan memerah ASI :
Cuci bersih kedua tangan ibu dengan benar dan menggunakan sabun.
Usahakan relaks dan pilihlah tempat atau ruangan untuk mermerah ASI yang tenang dan nyaman.
Kompres payudara dengan air hangat. Gunakan handuk kecil, washlap atau kain lembut lainnya.
Mulailah mengurut payudara dengan langkah sebagai berikut :
Massage
Gb. 1
Pergunakan 2 jari, yaitu telunjuk dan jari tengah. Tangan kanan mengurut payudara kiri dan tangan kiri mengurut payudara kanan (gb. 1)
Bila payudara besar, gunakan keempat jari.
Dengan tekanan ringan, lakukan gerakan melingkar dari dasar payudara dengan gerakan spiral ke arah puting susu (gb. 2)
Stroke
Shake
MEMERAH DENGAN TANGAN
1. Letakkan ibu jari di atas kalang payudara dan jari telunjuk serta jari tengah di bawah sekitar 2,5-3,8 cm di belakang puting susu membentuk huruf C. Anggaplah payudara sebagai jam, maka posisi/arah ibu jari berada pada jam 1, dua jari lain berada di posisi jam 6. Ibu jari dan jari telunjuk serta jari tengah saling berhadapan. Jari-jari diletakkan sedemikian rupa sehingga “gudang” ASI berada di bawahnya,
2. Tekan lembut ke arah dada tanpa memindahkan posisi jari-jari tadi. Payudara yang besar dianjurkan untuk diangkat lebih dulu. Kemudian ditekan ke arah dada.
3. Buatlah gerakan menggulung (roll) dengan arah ibu jari dan jari-jari ke depan untuk memerah ASI keluar dari gudang ASI yang terdapat di bawah kalang payudara di belakang puting susu. Jangan menggesekkan ibu jari dan jari-jari pada kulit karena akan menimbulkan rasa sakit atau nyeri.
4. Ulangi gerakan-gerakan tersebut (1,2,3) sampai aliran ASI berkurang. Kemudian pindahkan lokasi ibu jari ke arah jam 11 dan jari-jari ke arah jam 5, lakukan kembali gerakan memerah seperti tadi.
5. Lakukan pada kedua payudara secara bergantian. Begitu tampak ASI memancar dari puting, itu berarti gerakan tersebut sudah benar dan berhasil menekan gudang ASI. Jangan lupa untuk meletakkan cangkir bermulut lebar yang sudah disterilkan di bawah payudara yang diperah.
Seluruh prosedur persiapan dan pemerahan dengan tangan membutuhkan waktu sekitar 20-30 menit, meliputi :
Massage, selama 5-7 menit tiap payudara.
Stroke, selama 3-5 menit tiap payudara.
Shake, selama 2-3 menit tiap payudara.
Sebagai catatan, waktu yang dibutuhkan untuk memerah ASI di atas hanyalah patokan saja. Bila pasokan ASI sudah baik/banyak, patokan tersebut dapat diabaikan karena patokan waktu ini bermanfaat bila ASI hanya keluar sedikit atau bahkan belum keluar sama sekali. Yang justru harus diperhatikan adalah aliran ASI. Bila mulai berkurang segera ganti dengan memerah payudara berikutnya.
Ketika aliran air susu dari satu payudara berubah menjadi tetesan, anda harus segera pindah ke payudara satunya. Ikuti petunjuk yang sama untuk payudara kedua. Untuk mengeluarkan air susu sebanyak-banyaknya, prosedur ini mungkin perlu diulang-ulang dari satu payudara ke payudara lainnya.
Langkah-langkah Teknik Marmet
LETAKKAN ibu jari dan dua jari lainnya (telunjuk & jari tengah) sekitar 1 cm hingga 1,5 cm dari areola
Usahakan utk mengikuti aturan tsb sbg panduan. Apalagi ukuran dari areola tiap wanita bervariasi.
Tempatkan ibu jari diatas areola pada posisi jam 12 dan jari lainnya di posisi jam 6
Perhatikan bahwa jari-jari tsb terletak diatas gudang ASI. Sehingga proses pengeluaran ASI optimal.
Hindari melingkari jari pada areola. Posisi jari seharusnya TIDAK berada di jam 12 dan jam 4.
DORONG ke arah dada Hindari meregangkan jari. Bagi yg berpayudara besar, angkat dan dorong ke arah dada.
GULUNG menggunakan ibu jari dan jari lainnya secara bersamaan. Gerakkan ibu jari dan jari lainnya hingga menekan gudang ASI hingga kosong. Jika dilakukan dengan tepat, maka ibu tidak akan kesakitan saat memerah. Catatan : Perhatikan posisi dari ibu jari dan jari-jari lainnya pada gambar dengan baik. Arah panah menunjukkan arah tekanan jari saat melakukan gerakan. Perhatikan posisi jari berubah pada tiap gerakan mulai dari posisi Push (jari terletak jauh di belakang areola) hingga posisi Roll (jari terletak di sekitar areola).
ULANGI SECARA TERATUR (RYTHMICALLY) hingga gudang ASI kosong. Posisikan jari secara tepat, push (dorong), roll (gulung); posisikan jari secara tepat, push (dorong), roll (gulung).
PUTAR ibu jari dan jari-jari lainnya ke titik gudang ASI lainnya. Demikian juga saat memerah payudara lainnya, gunakan kedua tangan. Misalkan, saat memerah payudara kiri, gunakan tangan kiri. Juga saat memerah payudara kanan, gunakan tangan kanan. Saat memerah ASI, jari-jari berputar seiring jarum jam ataupun berlawanan agar semua gudang ASI kosong. Pindahkan ibu jari dan jari lainnya pada posisi jam 6 & jam 12, kemudian posisi jam 11 & jam 5, kemudian jam 2 & jam 8, kemudian jam 3 & jam 9. Gambar berikut menunjukkan posisi tangan pada payudara kanan.
Hindari Gerakan Berikut
Menekan (Squeeze): Hindari menekan / memencet payudara. Hal ini dapat melukai payudara.
Menarik-narik (Pulling): Hindari menarik-narik puting payudara. Hal ini dapat merusak lapisan lemak pada areola
Slide on: Hindari menekan dan mendorong (sliding on) payudara. Hal ini dapat menyebabkan kulit pada payudara memar atau memerah.
Agar ASI Mudah Dikeluarkan
Hal-hal dibawah ini dapat membantu merangsang (stimulasi) refleks keluarnya ASI.
PIJATLAH (massage) sel-sel produksi ASI dan saluran ASI. Mulai dari bagian atas payudara. Dengan gerakan memutar, pijat dengan menekan ke arah dada.
TEKANLAH (stroke) daerah payudara dari bagian atas hingga sekitar puting dengan tekanan lembut dengan jari spt menggelitiki.
GUNCANGLAH (shake) payudara dengan arah memutar. Gerakan gravitas akan membantu keluarnya ASI.
Catatan : Jika supply ASI terjaga, gunakan waktu semaksimal mungkin. Waktu tsb diatas hanya sbg patokan saja. Perhatikan aliran ASI dan ganti payudara lainnya jika aliran ASI pd payudara tsb sudah mulai menurun.
Catatan : Jika ASI tidak keluar atau hanya sedikit ASI yg keluar, ikuti petunjuk diatas dengan periode waktu lebih singkat dan sering.
Catatan:
ASI sebaiknya diperah setiap tiga jam karena produksi susu akan makin melimpah jika sering dikeluarkan.
Frekuensi normal pemberian ASI pada bayi adalah 8-12 kali per 24 jam. Artinya, ASI diberikan setiap 2-3 jam sekali, termasuk di malam hari. Bahkan, Bayi harus dibangunkan saat tidur jika 4 jam telah berlalu setelah pemberian terakhir.
Penting untuk Diperhatikan
ASI peras tak bisa menggantikan tindakan menyusui itu sendiri. Seperti diketahui, tindakan menyusui punya banyak pengaruh untuk pertumbuhan mental dan fisik bayi. Itu sebab, ASI peras hanya dianjurkan bagi bayi-bayi yang ibunya bekerja. Bila ibu tak bekerja atau si bayi bisa dibawa ke tempat di mana ibunya berada, harus diusahakan breast feeding atau menyusui langsung, bukan ASI peras[1]. Jadi, Bu, hanya bila situasi dan kondisinya tak memungkinkan untuk menyusui langsung, barulah si kecil boleh diberi ASI peras/perah. Ibaratnya, tak ada rotan, akar pun jadi. Bila sudah berada satu atap lagi dengan si kecil, hendaknya ASI peras yang masih ada jangan diberikan lagi, tapi bayi harus menyusu langsung pada ibu. Bukankah tindakan menyusui adalah rotan? Jadi, bila ada rotan, mengapa harus menggunakan akar?
Tak usah cemas si kecil akan kekurangan ASI berapapun jumlah ASI perah yang dikeluarkan. Memang, pada awalnya si kecil akan gelisah dengan jumlah yang mungkin lebih sedikit dari biasanya, tapi bayi akan cepat beradaptasi[1]. Maksimal pada hari keempat, bayi akan sudah terbiasa. Seberapa pun ASI yang ada, akan diminum. Kalau ditinggali 500 cc, akan diminum; begitu juga 300 cc, bahkan 200c. Namun ketika ibunya datang, ia akan minum habis-habisan. Jadi, bayi tak akan kekurangan ASI. Itu sudah dibuktikan.
Memerah ASI dengan Pompa
Adapun cara “menabung” ASI peras, yang paling baik dan efektif dengan menggunakan alat pompa ASI elektrik. Hanya saja, harganya relatif mahal. Lagi pula, masih ada cara lain yang lebih terjangkau bila punya dana lebih, yaitu piston atau pompa berbentuk suntikan. Prinsip kerja alat ini memang seperti suntikan, hingga memiliki keunggulan, yaitu setiap jaringan pompa mudah sekali dibersihkan dan tekanannya bisa diatur.
Ironisnya, pompa-pompa yang ada di Indonesia jarang sekali berbentuk suntikan, lebih banyak berbentuk squeeze and bulb. Padahal, harga kedua pompa tersebut relatif sama. Namun bentuk squeeze and bulb tak pernah dianjurkan banyak ahli ASI. Soalnya, pompa seperti ini sulit dibersihkan bagian bulb-nya (bagian belakang yang bentuknya menyerupai bohlam) karena terbuat dari karet hingga tak bisa disterilisasi. Selain itu, tekanannya tak bisa diatur, hingga tak bisa sama/rata.
Perah Dengan Tangan Lebih Dianjurkan
ASI yang diperah dengan pompa sebenarnya tak direkomendasikan atau tak dianjurkan diberikan kepada bayi. Kenapa? Karena banyak pompa ASI di pasaran yang tidak memenuhi standar. Bahan karet yang terdapat di bagian belakang pompa yang berbentuk seperti bohlam ternyata tak bisa disterilkan. Bahkan bisa menjadi media yang menyalurkan mikroba. Lantaran itu, ASI hasil pompa dianjurkan hanya sebatas untuk mengatasi pembengkakan payudara.
Memang ada pula pompa ASI yang memenuhi standar, seperti pompa elektrik dan pompa berbentuk piston. Namun harganya terbilang mahal. Jadi, yang dianjurkan tetaplah teknik memerah dengan tangan. Selain mudah, tak merepotkan serta tak perlu mengeluarkan uang untuk membeli peralatan. Modalnya cuma satu, keterampilan ibu memerah ASI dengan tepat seperti di atas.
ASI Perah Hanya Kala Ibu & Bayi Terpisah
Harap diingat, aktivitas menyusui langsung (breastfeeding) sebenarnya lebih bermanfaat dibanding ASI perah. Keterikatan, kedekatan, dan terciptanya suasana aman serta nyaman saat menyusui langsung dapat meningkatkan pertumbuhan fisik maupun psikis bayi. Karena itu, berikan ASI perah hanya kala bayi “terpisah” untuk sementara waktu dari ibunya. Setelah ibu di rumah dan bertemu kembali dengan si kecil, aktivitas menyusui langsung dapat segera dilakukan.
Tips Merawat Puting Sehabis Melahirkan
Semua wanita, terutama yang mempunyai rencana untuk menyusui bayinya, sebaiknya selalu merawat payudara. Yang dapat anda lakukan
Kenakan BH yang enak dipakai dan bisa menyangga payudara dengan baik. Ganti BH dengan ukuran yang lebih besar bila usia kehamilan bertambah.
Jaga payudara selalu dalam keadaan bersih dengan cara mandi dengan sabun lunak setiap hari.
Perlahan-lahan usap setiap kotoran yang akan menyumbat mulut saliran ASI. Keringkan dengan handuk bersih.
Oleskan krem lanolin setiap hari pada putting susu, bila perlu untuk menjaga kelembutan dan mencegah lecet-lecet sewaktu menyusui.
Bila putting susu terlalu pendek, datar atau tertarik kedalam, tariklah masing-masing putting keluar dan pilir-pilirlah di antara ibu jari dan jari telunjuk selama beberapa menit setiap hari. Atau kenakan pelindung putting susu.
Setelah usia kehamilan lebih dari 7 bulan, pijatlah daerah kehitaman di sekitar putting susu (areola) beberapa kali setiap hari. Cara ini akan membantu membuka saluran susu. Perhatikan untuk selalu membersihkan tetesan susu sehingga tidak mengering dan menyumbat saluran air susu.
Cara menyimpan ASI
Untuk menyimpan ASI secara aman, ibu harus memilih wadah yang steril dan kedap. Pam Lacey, seorang konsultan laktasi dan ketua Association of Breastfeeding Mothers, menyarankan penggunaan tas pendingin yang berdinding tebal dengan lapisan nilon di luar. Bahan gelas atau plastik keras lebih disukai untuk menyimpan ASI dalam waktu lama. Sebaiknya, ASI disimpan pada tempat penyimpanan yang tidak terbuat dari plastik Bisphenol A (BPA) atau polietilen. Tempat penyimpanan dapat diberi label yang mencantumkan tanggal ASI diperah.
BPA terdapat pada banyak botol dot umumnya. Hanya beberapa merk botol dot saja yang bebas BPA. Untuk itu, perlu ketelitian pembeli untuk mengecek adanya label “BPA free” yang menunjukkan bahwa botol dot tersebut tidak terbuat dari plastik BPA. Jika ingin benar-benar aman, ibu dapat menggunakan wadah penampungan dari gelas. Namun, jika ada ketakutan gelas pecah, dapat digunakan pelapis dari silikon di bagian luar gelas.18
Untuk bayi yang cukup bulan, ASI dapat disimpan pada suhu ruang 25oC selama 4-8 jam. Jika disimpan di kulkas (0o-3,9oC), ASI dapat bertahan selama 2-3 hari. ASI dapat disimpan di dalam freezer selama 2 minggu jika kompartemen freezer terletak menyatu dengan kompartemen lain di dalam kulkas. Pastikan disisakan ruang sekitar 1-2 cm untuk ASI mengembang saat membeku. Jika freezer merupakan kompartemen tersendiri, ASI dapat bertahan hingga 3-4 bulan pada suhu -18oC asalkan ASI disimpan dekat dengan dinding belakang freezer bukan pintu kulkas. Jika suhu dijaga pada 20oC, ASI dapat bertahan 6-12 bulan. Jangan menyimpan kembali ASI yang pernah diminum. Namun, jika pernah dihangatkan dan belum diberikan pada bayi, ASI dapat disimpan kembali di kulkas dan dapat digunakan hingga 24 jam ke depan.
ASI yang disimpan di dekat dinding belakang bertahan lebih lama daripada di pintu kulkas.
Wadah untuk menampung ASI perah sebaiknya terbuat dari bahan yang mudah disterilkan, misalnya botol atau cangkir tertutup rapat yang terbuat dari plastik atau gelas, tahan dimasak dalam air mendidih, dan mempunyai mulut lebar agar ASI yang diperah dapat ditampung dengan mudah. Bila ASI tidak langsung diberikan, pastikan penyimpanannya aman dari kontaminasi dan berikan label waktu pemerahan pada setiap wadah ASI perah.
Jika ASI perah akan diberikan kurang dari enam jam pada bayi, ASI tersebut tidak perlu disimpan dalam lemari es. Dalam buku Kiat Sukses Menyusui, ibu disarankan untuk tidak menyimpan ASI di suhu kamar lebih dari tiga atau empat jam. ASI perah tahan enam sampai delapan jam di ruangan bersuhu kamar, 24 jam dalam termos berisi es batu, 48 jam dalam lemari es dan tiga bulan dalam freezer.
Sebelum diberikan kepada bayi, ASI yang dibekukan dicairkan terlebih dulu dan diletakkan dalam ruangan dengan suhu kamar. Kemudian, wadah berisi ASI itu direndam dalam air hangat sebelum diberikan kepada bayi. ASI sebaiknya diberikan dengan cangkir atau sendok agar bayi bisa mengisap ASI sedikit demi sedikit. Seusai diberi ASI, bayi dipegang dalam posisi tegak agar sendawa.
Pemberian ASI perah dengan sendok atau cangkir sebaiknya diberikan orang lain, bukan ibu bersangkutan. Ini untuk menjaga konsistensi sehingga bayi tidak mengalami bingung puting. Selain itu, sisa susu yang tidak dihabiskan bayi sebaiknya tidak disimpan atau dibekukan ulang agar bayi terhindar dari risiko terserang diare.
Selain penerapan manajemen, laktasi itu juga harus disertai dukungan semua pihak agar upaya pemberian ASI eksklusif selama enam bulan bisa berhasil. Sikap keluarga sangat menentukan keberhasilan menyusui, terutama suami, dengan membantu tugas rumah tangga agar ibu yang menyusui tidak kelelahan, dan bantuan tenaga yang menjamin keamanan si kecil ketika ditinggal bekerja.
Adanya “tempat kerja sayang ibu” yang mendukung proses laktasi di tempat kerja juga mempermudah ibu bekerja memberi ASI eksklusif selama enam bulan. Contohnya, dengan menyediakan ruang untuk menyusui atau memerah ASI dan tempat penitipan bayi, memberi kesempatan ibu menyusui atau memerah ASI setiap tiga jam.
Ketakutan terbesar dalam penyimpanan ASI selama periode tertentu adalah adanya kontaminasi bakteri dan pertumbuhan patogen infeksius sehingga membuat ASI perah yang disimpan terkesan tidak aman untuk diberikan kepada bayi. Pemeriksaan bakteriologis terhadap ASI di dalam kulkas membuktikan keamanan penggunaannya oleh manusia hingga 72 jam. Dengan suhu -20oC, ASI dapat bertahan hingga 1 bulan tetapi lebih direkomendasikan untuk disimpan pada suhu -70oC jika ingin disimpan untuk jangka panjang. Adanya ketakutan ASI menjadi lebih asam tidak tebukti karena keasaman terjadi tergantung pada kadar asam lemak bebas daripada asam laktat. Hal ini dapat terjadi karena fermentasi gula susu oleh bakteri.21
Meskipun beberapa ibu memilih memompa lebih banyak ASI untuk disimpan di kulkas, akan lebih baik untuk menyimpan ASI dalam jumlah kecil, yaitu 59,1 atau 118,2 mL per satu tempat penyimpanan. Ibu juga dapat menuangkan ASI perah ke cetakan es yang telah dibersihkan dengan air panas, membiarkannya hingga beku, menyimpannya di tas pendingin, kemudian menghitung jumlah es yang diperlukan untuk satu kali pemberian. ASI yang telah beku dapat memiliki warna yang berbeda tetapi tidak berarti ASI telah rusak. Warna yang terkesan membiru, kuning, atau coklat masih normal untuk ASI yang beku. ASI juga dapat terpisah menjadi beberapa lapisan, yaitu lapisan krim yang terlihat lebih muda dan lapisan putih yang terlihat lebih kental seperti susu.19
Simpan ASI Praktis dan Awet
Taruh ASI dalam kantung plastik polietilen (misl plastik gula); atau wadah plastik untuk makanan atau yang bisa dimasukkan dalam microwave, wadah melamin, gelas, cangkir keramik. Jangan masukkan dalam gelas plastik minuman kemasan maupun plastik styrofoam.
Beri tanggal dan jam pada masing-masing wadah.
Dinginkan dalam refrigerator (kulkas). Simpan sampai batas waktu yang diijinkan (+ 2 minggu).
Jika hendak dibekukan, masukkan dulu dalam refrigerator selama semalam, baru masukkan ke freezer (bagian kulkas untuk membekukan makanan), gunakan sebelum batas maksimal yang diijinkan. (+3-6 bulan)
Jika ASI beku akan dicairkan, pindahkan ASI ke refrigerator semalam sebelumnya, esoknya baru cairkan dan hangatkan. Jangan membekukan kembali ASI yang sudah dipindah ke refrigerator.
Tatacara menyimpan ASIP:
Sebelum dimasukkan ke dalam freezer, ASIP didinginkan terlebih dahulu di dalam lemari es/kulkas
Sebaiknya menyimpan ASIP sebanyak 60 – 120ml per botol/wadah untuk mengurangi sisa ASIP yang terbuang
Apabila memungkinan, gunakan ASIP yang masih disimpan di dalam lemari es/kulkas daripada ASIP yang sudah dibekukan didalam freezer – kandungan nutrisi dan zat-zat anti infeksinya lebih banyak
Gabungan ASIP dari hasil beberapa kali perah/pompa dapat dilakukan dalam 1 botol/wadah sesuai dengan metode penyimpanan ASIP dibawah ini — contoh: ASI segar dapat digabungkan dalam 1 wadah dengan ASIP lainnya yang masih disimpan dalam suhu ruangan, namun apabila ingin digabungkan dalam 1 wadah dengan ASIP yang disimpan di dalam lemari es/kulkas harus didinginkan terlebih dahulu, dan apabila ingin digabungkan dalam 1 wadah dengan ASIP beku dalam freezer, maka selain harus didinginkan terlebih dahulu jumlahnya juga harus lebih sedikit dibandingkan dengan ASIP beku yang sudah tersimpan dalam wadah tersebut
Waktu Penyimpanan ASI berdasarkan suhu ruang:
Metode Penyimpanan ASIP
ASI
Suhu Ruangan
Lemari Es/Kulkas
Freezer
ASI yang baru saja diperah (ASI segar)
Kolostrum – hari ke-5 (12-24 jam dalam suhu ASI matang:24 jam dalam suhu 15ºC10 jam dalam suhu 19-22ºC4-6 jam dalam suhu 25ºC
3–8 hari dengan suhu 0-4ºC.
Jangan simpan di bagian pintu, tetapi simpan di bagian paling belakang lemari es/kulkas – paling dingin dan tidak terlalu terpengaruh perubahan suhu
2 minggu dalam freezer yang terdapat di dalam lemari es/kulkas (1 pintu).
3-4 bulan dalam freezer yang terpisah dari lemari es/kulkas (2 pintu).
6–12 bulan dalam freezer khusus yang sangat dingin(<18ºc)
ASIP beku— dicairkan dalam lemari es/kulkas tapi belum dihangatkan
Tidak lebih dari 4 jam(yaitu jadwal minum ASIP berikutnya)
simpan di dalam lemari es/kulkas sampai dengan 24 jam
JANGAN masukkan kembali dalam freezer (tidak boleh dibekukan kembali)
ASIP yang sudah dicairkan dengan air hangat
Untuk diminum sekaligus
Dapat disimpan selama 4 jam atau sampai jadwal minum ASIP berikutnya
JANGAN masukkan kembali dalam freezer (tidak boleh dibekukan kembali)
ASIP yang sudah mulai diminum oleh bayi dari botol yang sama
Sisa yang tidak dihabiskan harus dibuang
Dibuang
Dibuang
ASI bisa disimpan:
Dalam suhu ruangan (19-22°C) sampai 10 jam lamanya
Di dalam kulkas (0-4°C) sampai 8 hari (usahakan di bagian paling belakang dari kulkas) sampai 8 hari lamanya
Di dalam freezer (dengan suhu bervariasi tergantung berapa sering pintu freezer dibuka dan ditutup) sampai 2 minggu
Di dalam freezer dengan bagian khusus yang memiliki tutup terpisah dari pintu freezer (dengan suhu bervariasi tergantung berapa sering pintu freezer dibuka dan ditutup) sampai 3-4 bulan.
Di dalam freezer yang sangat dingin (-17 sampai -8°C) sampai 6 bulan lamanya
Keterangan lain :
di ruangan biasa dengan suhu biasa : 6 – 8 jam
di dalam termos es : 1x 24 jam
di dalam lemari es (tempat sayur) : 2x 24 jam
di dalam freezer 1 pintu : 2 minggu
di dalam freezer 2 pintu 3 bulan
Meski dapat disimpan lebih lama, disarankan agar tidak terlalu lama menyimpan ASIP. Karena ASI diproduksi sesuai dengan kebutuhan pertumbuhan & perkembangan anak.
Segera simpan ASI perah tidak lebih dari 1 jam dari waktu mulai memerah ke lemari pendingin, apabila direncanakan ASI perah tersebut untuk tabungan jangka waktu lama maka setelah 30 – 60 menit dilemari pendingin dapat dipindahkanke freezer/lemari pembeku.
Untuk Ibu yang memerah ASI di kantor, cukup masukkan ke lemari pendingin, untuk memudahkan penstabilan suhu ketika ASI dibawa pulang dalam perjalanan, sesampainya dirumah bisa langsung diletakkan di freezer, sehingga tidak terjadi turun naik suhu yang beresiko menyebabkan hilangnya beberap zat penting dalam ASI. bawa ASIP dengan wadah tertutup bisa coolbox atau tas biasa dengan didampingin blue ice atau es batu, untuk mempertahankan suhu ASIP
Jika tidak ada lemari pendingin
Ada atau tidaknya lemari pendingin/kulkas bukan hambatan bagi ibu utk menyimpan ASI. Artinya jika ditempat ibu bekerja ataupun saat ibu bepergian jauh dr bayi utk waktu lama tidak ditemukan kulkas, maka ibu dapat menyimpan botol (wadah) berisi ASI peras/pompa dalam termos es yg telah diisi es batu tentunya. Jika es batu mencair, ibu bisa menggantinya lagi. Atau ada juga cooler khusus utk mendinginkan lebih lama dengan blue ice.
Kesimpulan
Cara memerah ASI yang paling disarankan adalah memerah ASI dengan tangan kosong dalam sesi yang pendek tetapi sering dan dalam keadaan relaks memikirkan bayinya.
Cara menyimpan ASI yang paling disarankan adalah menggunakan tempat penampungan terbuat dari gelas atau plastik keras yang tidak terbuat dari bisphenol A atau polietilen, diberi label tanggal ASI diperah, dan diletakkan di bagian belakang kompartemen freezer yang terpisah dari kompartemen kulkas lainnya.
Cara memberikan ASI yang paling disarankan adalah menggunakan cangkir dengan “moncong” berbentuk sendok yang diberikan perlahan dimana bayi dalam keadaan terjaga dan menjilat/menyerut sendiri ASI yang menyentuh bibirnya.
Untuk memerah ASI saat jam kerja atau jam istirahat, ibu pekerja disarankan mempersiapkan dua alat pompa ASI, wadah penampungan, akses ke kulkas terdekat atau boks pendingin, dan breast pads disertai kerjasama dengan atasan atau rekan kerja untuk mengatur pembagian kerja agar ibu berkesempatan untuk memerah ASI selama jam kerja.
Volume Penyimpanan ASIP
Simpan ASIP dalam jumlah sedikit atau cukup utk sekali minum, +/- 60 ml, tujuannya agar tidak ada ASI yg tersisa dan terbuang. berikan label untuk penamaan, penanggalan dan jam memerah atau memompa di tiap wadah penyimpanan ASI, bila tidak ada label dapat menggunakan penulisan langsung dengan tinta yang non toxic ASI yg lebih awal disimpan, tujuan pemberian label agar lebih mudah bagi para ibu untuk menjalankan prinsip first come first out
Pemberian ASI Perahan
Ambil ASI berdasarkan waktu pemerahan (yang pertama diperah yang diberikan lebih dahulu).
Jika ASI beku, cairkan di bawah air hangat mengalir. Untuk menghangatkan, tuang ASI dalam wadah, tempatkan di atas wadah lain berisi air panas.
Kocok dulu sebelum mengetes suhu ASI. Lalu tes dengan cara meneteskan ASI di punggung tangan. Jika terlalu panas, angin-anginkan agar panas turun.
Jangan gunakan oven microwave untuk menghangatkan agar zatzat penting ASI tidak larut/hilang.
Berikan dengan sendok.
Umumnya, ibu memberikan ASI maupun susu formula kepada bayi melalui botol susu dengan dot terbuat dari karet lateks atau silikon. Alternatif lainnya, ASI dapat diberikan melalui cangkir yang sekarang banyak dirancang khusus memiliki ‘moncong’ seperti sendok. Oleh karena penggunaan dot terbukti berkaitan dengan berbagai masalah menyusui, seperti bingung puting, penggunaan cangkir dan sendok telah menjadi alternatif utama untuk memberikan ASI kepada bayi. Penggunaannya juga sudah mulai direkomendasikan oleh berbagai asosiasi menyusui di dunia saat ini.
Sebelum simpanan ASI perah yang telah beku diberikan pada bayi, ada beberapa hal yang perlu dilakukan antara lain sebagai berikut. Pertama, cairkan ASI perah yang telah beku dengan memindahkannya dari freezer ke kompartemen kulkas yang kurang dingin untuk pencairan secara lambat dalam 24 jam. Dapat pula disiram dengan air dingin dan secara bertahap siram dengan air yang lebih hangat. Jangan memanaskan ASI karena dapat merusak beberapa nutrisi. ASI yang beku juga dapat mencair dalam 4 jam di suhu ruangan. ASI yang beku dapat pula dicairkan dengan mencelupkannya ke mangkuk berisi air hangat. Jangan mendinginkan kembali ASI yang sudah mencair.
Cara memberikan ASI perah dengan menggunakan cangkir adalah sebagai berikut. Pertama, bungkus bayi dengan selimut agar tidak menumpahkan cangkir ASI. Bayi digendong dengan posisi badan menghadap kanan ke arah tubuh ibu. Cangkir ASI diisi sebanyak 30 cc atau setengahnya. Letakkan pinggiran/ujung “moncong” sendok cangkir ke sisi luar bibir atas dan turunkan perlahan ke bibir bawah. Lidah bayi akan perlahan masuk ke dalam cangkir atau di bawah bibir cangkir. Miringkan cangkir sedikit sehingga ASI hanya menyentuh bibir bayi tetapi jangan tuang ASI ke mulut bayi. Bayi biasanya akan menjilat ASI atau menyerutnya. Berikan jeda waktu agar bayi dapat menelan ASI yang masuk ke dalam mulutnya. Biarkan bayi terus meminum ASI tetapi batasi maksimal 30 menit untuk mengurangi kelelahan. Sendawakan bayi di antara jeda waktu ini. Jangan pernah memberikan minum seperti ini saat bayi tidak terjaga atau mengantuk.
ASI perah yang telah beku dapat dicairkan dengan mencelupnya di mangkuk berisi air hangat selama beberapa menit. Jangan memanaskan ASI karena dapat merusak beberapa nutrisi. Pastikan ASI tidak terlalu panas untuk bayi. Posisi bayi harus digendong menghadap ke tubuh ibu dan jangan lupa menyendawakan setelah pemberian ASI.
Bayi yang diberikan ASI melalui cangkir menunjukkan perilaku menyusu yang lebih baik dibandingkan dengan bayi yang diberikan ASI melalui botol dot selama 6 minggu. Selain itu, didapatkan peningkatan angka menyusui setelah satu minggu dipulangkan dari rumah sakit. Elektromiografi (EMG) yang banyak digunakan untuk menyelidiki perilaku mengisap normal pada bayi menemukan bahwa aktifitas otot maseter lebih sedikit pada bayi yang menggunakan botol dot dibandingkan bayi yang menyusu langsung dari puting susu. Hal ini menyebabkan bayi mengalami bingung puting dan menghentikan ASI eksklusif lebih cepat dari yang direkomendasikan. Hal yang menarik adalah aktifitas otot ini ditemukan mirip antara bayi yang menggunakan cangkir dan bayi yang menyusu langsung pada ibunya. Kemiripan inilah yang membuat penggunaan cangkir saat ini lebih direkomendasikan daripada penggunaan botol dot.
Tata Cara Pemberian ASI peras/pompa ke bayi
1. Bagi ibu yang memiliki banyak ASI beku, berikan secara variasi antara ASI beku dengan ASI yang diperas 1 hari sebelum waktu pemberian.
contoh
ASI akan diberikan tanggal 12 september, maka berikan ASI yang diperas tanggal 11 september dan berikan juga ASI beku yang ada di freezer dengan tanggal lebih tua, simpan juga ASI yang tanggal 11 lainnya untuk mengganti persediaan ASI beku yang digunakan. Hal ini mengingat salah satu prinsip ASI yang dihasilkan sesuai kebutuhan Bayi dan berubah setiap harinya
2. Cairkan ASI beku terlebih dahulu di kulkas bawah/lemari pendingin, baru kemudian setelah mencair didiamkan di suhu ruang, atau bisa direndam dalam wadah berisi air dingin, kemudian bertahap ke wadah berisi air hangat
3. JANGAN menghangatkan ASI dalam suhu tinggi, merebus atau memanaskan dengan microwave
4. Kocok wadah ASIP secara perlahan sebelum diberikan ke bayi.
Alat Pemberian ASIP
sendok yang tidak tajam
pipet
sendok khusus
gelas atau cangkir kecil dsb. Untuk bayi
Cara menghangatkan ASIP:
Gunakan ASIP dengan hari dan tanggal yang paling lama terlebih dahulu
Apabila bau dan rasanya basi, untuk amannya berarti ASIP tersebut memang sudah basi
Cairkan ASIP beku selama 12 jam dalam lemari es/kulkas sebelum diberikan kepada bayi
Hangatkan ASIP dingin dengan cara meletakkan botol/wadah ASIP di dalam mangkuk berisi air hangat, atau pegang botol/wadah ASIP dibawah aliran air hangat
JANGAN panaskan ASIP diatas kompor – JANGAN direbus
JANGAN panaskan ASIP dalam microwave
Karena ASI tidak bersifat homogen, maka apabila disimpan cenderung untuk terjadi proses pemisahan, dimana lemaknya akan naik keatas dan membentuk lapisan krim – cukup kocok secara perlahan-lahan sebelum diberikan kepada bayi
Jangan lupa untuk memeriksa suhu ASIP yang sudah dihangatkan sebelum diberikan kepada bayi
Apabila perlu, cicipi ASIP terlebih dahulu sebelum diberikan kepada bayi
Ibu tentunya mengetahui berapa banyak bayi Ibu biasanya sekali meminum ASI. Sesuaikanlah jumlah susu yang dipanaskan dengan kebiasaan tsb. Misalnya dalam satu botol Ibu menyimpan sebanyak 180 cc ASI tetapi bayi Ibu biasanya hanya meminum 80, jangan langsung dipanaskan semua. INGAT bahwa susu yang sudah dipanaskan tidak bisa disimpan lagi!
BAGAIMANA MENGETAHUI APAKAH ASI YANG DISIMPAN SUDAH BASI?
Sebenarnya jika Ibu mengikuti pedoman pemompaan/pemerasan ASI dan penyimpanan yang baik, ASI tidak akan mungkin basi. Kadang memang setelah disimpan / didinginkan akan terjadi perubahan warna dan rasa, tapi itu tidak menandakan bahwa ASI sudah basi. Asalkan Ibu berada dalam keadaan bersih ketika memompa/memeras, menyimpan ASI dalam botol yang steril & tertutup rapat, dalam jangka waktu yang dijabarkan seperti di atas dan saat memanaskan juga mengikuti petunjuk, mudah-mudahan ASI Ibu terjaga dalam kondisi yang baik.
Dibandingkan susu formula, ASI lebih tahan lama. Pada saat berinteraksi dengan udara luar, biasanya yang terjadi bukan pembusukan ASI tetapi lebih merupakan berkurangnya khasiat ASI, terutama zat yang membantu pembentukan daya imun bayi.
CATATAN KHUSUS – KADAR ENZIM LIPASE YANG TINGGI
Para ibu yang memiliki ASI dengan kadar enzim lipase yang tinggi seringkali menemukan bahwa ASIP mereka sangat berminyak dan berbau seperti sabun. Enzim lipase berfungsi untuk menguraikan kandungan lemak dalam ASI – semakin tinggi kadar enzim ini, maka akan semakin cepat sel-sel lemaknya terurai sehingga menghasilkan ASI dengan bau yang sangat khas tersebut. Akibatnya, banyak bayi yang menolak untuk minum ASIP dengan ”bau sabun” padahal ASIP tersebut masih sangat layak untuk diminum.
Bagaimana cara mengatasinya? Apabila bayi memang menolak untuk minum ASIP tersebut, maka ASI segar yang baru saja diperah dan belum dimasukkan ke dalam lemari es/kulkas, dipanaskan terlebih dahulu diatas kompor sampai hampir mendidih (70-80ºC saja) setelah itu langsung diangkat/didinginkan sebelum dimasukkan ke dalam lemari es/kulkas. Dengan memanaskan terlebih dahulu seperti ini, maka proses kerja penguraian sel-sel lemak oleh enzim lipase akan dihentikan.
Bagaimana cara mengetahui ASI anda mempunyai kadar enzim lipase yang tinggi?
PerahASI anda seperti biasa, lalu biarkan ASI tersebut pada suhu ruangan selama 30 menit. Perah lagi ASI baru, lalu bandingkan rasanya antara ASI yang baru saja diperah dengan yang sudah dibiarkan dalam waktu 30 menit tadi.
Bisa juga bandingkan ASI yang baru diperah (ASI segar) dengan ASIP yang sudah disimpan di kulkas (yang sudah didinginkan).
Coba juga bandingkan lagi ASI segar dengan ASIP yang sudah dibekukan di dalam freezer.
Bandingkan lagi ASI segar dengan ASIP dingin atau beku yang sudah dicairkan dan dihangatkan.
Kalau diantara percobaan-percobaan tersebut tidak ada perbedaan rasa (mungkin sedikit berbeda, tetapi tidak terlalu tajam/mencolok perbedaan rasa dan baunya), maka kadar enzim lipase anda tergolong normal.
SENRA LAKTASI INDONESIA
http://selasi.org
kami membuka konsultasi lewat telp ke nomor :
021-83795168
021-83795168
Tidak ada komentar:
Posting Komentar