MAKALAH MOTIVASI PEGAWAI
“MERAIH KUALITAS KINERJA TERBAIK”
Oleh :
DINO ARIES FAHRIZAL
PENGANTAR
Memiliki pekerjaan yang baik adalah dambaan setiap insan. Berbagai usaha dilakukan, seperti menuntut ilmu sejak SD hingga Universitas agar mampu mendapatkan pekerjaan yang didambakan, termasuk menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).
Sayangnya, motivasi mendapatkan pekerjaan itu terkadang tidak dipelihara ketika telah berada dalam pekerjaan yang diinginkan. Akibatnya, pengembangan diri lambat dan produktifitas rendah. Seperti diketahui bahwa kinerja yang tinggi dihubungkan dengan motivasi yang tinggi. Sebaliknya, motivasi yang rendah dihubungkan dengan kinerja yang rendah. Dalam koridor sebagai PNS, rendahnya kinerja berarti rendahnya kualitas pelayanan kepada masyarakat, minimnya inovasi, tidak tercapainya target yang telah disusun dalam berbagai tingkatan perencanaan. Muara dari kinerja dan produktifitas yang rendah itu adalah semakin beratnya beban Negara dalam menanggung biaya pembangunan, namun minim hasil dan manfaat.
Oleh karena itu, motivasi dalam bekerja itu harus terus dipelihara dan digelorakan. Karena dengan motivasi kerja yang tinggi diharapkan dapat meningkatkan kualitas kinerja terbaik dari seluruh Pegawai.
BEKERJA, UNTUK SIAPA?
Secara formal, setiap orang bekerja untuk orang yang memberikan bayaran atas pekerjaannya, dalam hal ini atasan. Atau bagi PNS –termasuk para pejabat politik-, secara filosofis, bekerja adalah untuk rakyat yang telah membayar mereka melalui pajak, retribusi dan pungutan lain. Namun, sebenarnya bekerja adalah untuk kepentingan diri sendiri.
Pegawai yang ’bekerja’ untuk atasan, hanya akan memperlihatkan kinerja yang baik ketika ada atasan di tempat mereka bekerja. Ketika atasan tidak berada di kantor karena suatu urusan, mereka bermalas-malasan dalam bekerja, atau justru meninggalkan pekerjaan. Motivasi bekerja karena adanya atasan ini sering disebut ‘mental kuli’, karena hanya bekerja ketika ada yang mengawasi. Hal ini tentu saja merendahkan martabat para pegawai itu sendiri yang rata-rata telah mengecap gelar sarjana.
Lalu bagaimana dengan adanya keluhan seperti ini : “Masalahnya saya sudah tidak betah. Kerja saya tidak dihargai, fasilitas minim dan gaji pun kecil. Saya stress saat kerja. Haruskah saya mempertahankan motivasi kerja saya”. Jawaban untuk keluhan ini sangat sederhana, jika sudah tidak betah bekerja, silakan berhenti. Jika ingin terus bekerja, maka bekerjalah dengan baik dan motivasi yang tinggi. Mereka yang menunggu bayaran tinggi baru menunjukkan kinerja terbaik, sesungguhnya tidak akan pernah mendapatkan apa yang mereka harapkan itu. Tunjukkan lah kinerja terbaik, maka segera Anda akan dibayar untuk kualitas kinerja terbaik Anda.
Para pekerja, entah mereka pegawai, usahawan ataupun olahragawan, bekerja untuk diri sendiri. Para atlit contohnya, ketika impian mereka adalah mendapatkan medali emas, maka mereka akan berlatih setiap hari dengan jadwal yang padat dan libur yang sedikit. Mereka tidak bisa mengendorkan atau bermalas-malasan latihan hanya karena tidak ada pelatih, misalnya. Karena mereka sadar, apa yang mereka lakukan adalah demi meningkatkan performa mereka sendiri agar mendapatkan hasil maksimal. Hal itu dilakukan agar mampu menampilkan performa prima saat pertandingan tiba, dan mampu mendapatkan apa yang di cita-citakan.
Sebagai manusia modern, memperlihatkan kinerja terbaik adalah kebutuhan. Karena hal itu adalah wujud prestasi dalam bekerja. Hal tersebut dapat dilihat dari pendapat McClelland1 memusatkan pada tiga kebutuhan manusia yaitu:
1. Kebutuhan prestasi, tercermin pada keinginan karyawan mengambil tugas yang dapat di pertanggung jawabkan secara pribadi atas perbuatanperbuatannya;
2. Kebutuhan afiliasi, kebutuhan ini ditunjukkan adanya keinginan untuk bekerjasama, senang bergaul, berusaha mendapatkan persetujuan dari orang lain, melaksanakan tugas-tugasnya secara lebih efektif bila bekerja dengan orang-orang lain dalam suasana kerjasama; dan
3. Kebutuhan kekuasaan, kebutuhan ini tercermin pada seseorang yang ingin mempunyai pengaruh atas orang-orang lain.
BEKERJA ADALAH IBADAH
Mencari nafkah (bekerja) dalam Islam adalah sebuah kewajiban. Islam adalah agama fitrah, yang sesuai dengan kebutuhan manusia, diantaranya kebutuhan fisik. Dan, salah satu cara memenuhi kebutuhan fisik itu ialah dengan bekerja.
Motivasi kerja dalam Islam itu adalah untuk mencari nafkah yang merupakan bagian dari ibadah. Motivasi kerja dalam Islam bukanlah untuk mengejar hidup hedonis, bukan juga untuk status, apa lagi untuk mengejar kekayaan dengan segala cara. Tapi untuk beribadah. Bekerja untuk mencari nafkah adalah hal yang istimewa dalam pandangan Islam.
Cobalah simak beberapa kutipan hadist dibawah ini. Anda bisa melihat bagaimana istimewanya bekerja mencari nafkah menurut sabda Nabi saw.
Sesungguhnya Allah suka kepada hamba yang berkarya dan terampil (professional atau ahli). Barangsiapa bersusah-payah mencari nafkah untuk keluarganya maka dia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah Azza wajalla. (HR. Ahmad)
Luar biasa, dikatakan dalam hadits di atas bahwa mencari nafkah adalah seperti mujahid, artinya nilainya sangat besar. Allah suka kepada hambanya yang mau berusah payah mencari nafkah. Saya kira, ini lebih dari cukup sebagai motivasi kerja kita sebagai muslim. Bahkan, kita pun berpeluang mendapatkan ampunan dari Allah.
Berikut adalah hadits-hadits lain yang menjelaskan keutamaan bekerja :
Barangsiapa pada malam hari merasakan kelelahan dari upaya ketrampilan kedua tangannya pada siang hari maka pada malam itu ia diampuni oleh Allah. (HR. Ahmad)
”Sesungguhnya di antara dosa-dosa itu, ada yang tidak dapat terhapus dengan puasa dan shalat”. Maka para sahabat pun bertanya: “Apakah yang dapat menghapusnya, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: ”Bersusah payah dalam mencari nafkah.” (HR. Bukhari)
Jika tujuan bekerja begitu agung. Untuk mendapatkan ridha Allah Subhaanahu wa ta’ala, maka etos kerja seorang Muslim haruslah tinggi. Sebab motivasi kerja seorang Muslim bukan hanya harta dan jabatan, tetapi pahala dari Allah. Tidak sepantasnya seorang Muslim memiliki etos kerja yang lemah. Coba perhatikan diatas, ada kata-kata “susah payah” dan “kelelahan” yang menandakan etos kerja yang tinggi, suka bekerja keras, dan jauh dari sifat malas.
Jadi, tidak ada kata malas atau tidak serius bagi seorang Muslim dalam bekerja. Motivasi kerja dalam Islam bukan semata mencari uang semata, tetapi serupa dengan seorang mujahid, diampuni dosanya oleh Allah SWT, dan tentu saja ini adalah sebuah kewajiban seorang hamba kepada Allah SWT2.
Dalam hadits diatas juga disebutkan kata profesional dan ahli. Jika motivasi kerja Anda sebagai ibadah, maka Anda akan melakukannya dengan sebaik mungkin. Anda akan terus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan Anda dalam bekerja. Anda terus belajar dan berlatih agar semakin hari menjadi semakin ahli dalam bekerja. Kemauan Anda untuk belajar dan meningkatkan kemampuan bisa dijadikan ukuran apakah motivasi kerja Anda untuk ibadah atau bukan.
Salah satu bentuk profesional itu adalah ‘adil, yaitu menempatkan sesuatu pada tempatnya. Jika waktunya bekerja, Anda bekerja. Jika waktunya istirahat atau shalat, Anda bisa shalat dan istirahat. Jika tidak, maka bisa termasuk melakukan hal yang dzalim, tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya. ‘Adil juga berarti, Anda bekerja sesuatu tugas, wewenang, dan tanggung jawab yang Anda miliki.
MENUJU KINERJA TERBAIK
Kinerja menurut Rhenald Kasali (2005:14) hanyalah sebuah puncak es dari proses pikiran seseorang. Termasuk yang berada di permukaan adalah perilaku. Semua yang tampak tersebut hanyalah puncak gunung es, yang sebenarnya terbentuk dari ‘yang tak terlihat’ yang justru menjadi pondasi dasar keberadaan yang tampak.
Berikut adalah gambarannya menurut Rhenald Kasali dalam Re-code your Change DNA-nya (2005:14) :
Ungkapan berikut begitu popular dalam dunia pengembangan diri : you are what you think. Serta : You are who you friends are. Artinya pikiran-pikiran seseorang dipengaruhi oleh lingkungan. Penggunaan pikiran itulah yang menentukan siapa seseorang. Di bawah permukaan air, selain apa yang kita pikirkan juga ada apa yang kita rasakan (emosi). Keduanya membentuk perilaku. Itulah yang akan muncul dalam bentuk kebiasaan atau habit kita. Dan hasil yang kita capai Semuanya merupakan outcomes dari kebiasaan-kebiasaan tadi. Dengan demikian, kalau kita ingin memperbaiki kinerja kita, maka jalan terbaik yang harus kita lakukan adalah dengan menyentuh karakter dan cara berpikir (Kasali, 2005 :15).
Konsep yang dikemukakan Kasali tersebut sejalan dengan apa yang disebut Norman Vincent Peale pada judul bukunya : You Can If You Think You Can. Sejalan pula dengan konsep Law Of Attraction-nya Honda Byrne dalam bukunya yang amat popular The Secret. Menurut Byrne (dalam Yodhia Antariksa, 2008) rahasia besar kehidupan adalah hukum tarik menarik. Hukum tarik menarik mengatakan bahwa kemiripan menarik kemiripan. Ketika Anda membayangkan pikiran-pikiran, maka pikiran-pikiran itu dikirim ke Semesta, dan secara magnetis pikiran akan menarik semua hal yang serupa, dan lalu dikembalikan pada sumbernya, yakni Anda.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa menjaga kualitas pikiran agar selalu berada pada level
positif akan meningkatkan gairah/motivasi dalam bertindak, yang ujungnya adalah kualitas kinerja yang tinggi.
Daniel Pink dalam bukunya Drive : The Suprising truth about What Motivates Us (dalam Yodhia Antariksa, 2011) menguraikan 3 (tiga) unsur sejati untuk mendapatkan kinerja yang gemilang, yaitu :
a) Job autonomy. Artinya, adanya kebebasan (freedom) dan otonomi untuk menentukan pola kerja apa yang terbaik menurut pengalaman dan analisa para pekera/pegawai. Potensi para pegawai biasanya akan layu dan gagal melentik kala terlalu banyak aturan yang kaku dan menekan. Kala situasi kerja cenderung bersifat otoriter dan membatasi ekspresi kreativitas.
Job autonomy kian penting ketika dihadapkan pada sifat pekerjaan yang kompleks; dan melibatkan beragam variable yang saling berinteraksi. Dengan otonomi, pegawai bisa leluasa mengajukan beragam inisiatif, serta menentukan teknik dan cara kerja apa yang menurut mereka – sebagai pelakunya langsung – paling baik. Dan persis di titik itulah, benih-benih peak performance mulai ditabur.
Itulah kenapa jika Anda berperan sebagai atasan/leader, maka tugas Anda adalah bagaimana menyodorkan otonomi yang konstruktif kepada para bawahan Anda. Empowering, pemberdayaan dan pemberian kepercayaan. Berikan ruang bagi para anggota untuk leluasa mengekspresikan gagasan, dan juga ruang untuk mengimplementasikan insiatifnya. Hal ini akan membuat para pegawai termotivasi dalam mengeluarkan potensi terbaik untuk mendapatkan kualitas kinerja terbaik, karena segala usahanya dihargai dan diberikan keleluasaan untuk itu.
b) Mastery. Atau sebuah kecakapan yang mumpuni untuk menuntaskan pekerjaan yang dilakoninya. Dan mastery hanya akan bisa merebak kala seseorang sadar dan tahu dimana kekuatan skills nya (strenghts) dan kemudian tiap hari berjibaku untuk menggerinda skills itu agar makin tajam terasah. Dalam dunia kerja, maka tugas bagian personalia atau kepegawaian lah yang harus secara cermat menempatkan para pegawai pada posisi yang menjadi bidangnya. The right man in the right place. Inilah pentingnya analisis jabatan, agar penempatan pegawai dipastikan telah sesuai dengan kebutuhan dan merupakan bidang yang dikuasainya.
c) Sense of Purpose. Atau sebuah visi dan tujuan pekerjaan yang jelas dan inspiring. Visi dan misi perusahaan/lembaga jelas merupakan acuan dasar dalam bekerja, karena penyelesaian pekerjaan adalah bertujuan untuk mencapai visi tersebut. Namun, secara pribadi seorang pegawai bisa membuat sebuah visi/tujuan yang lebih mulia untuk menggugah semangat dalam bekerja.
Seorang tukang listrik yang trampil misalnya dan bekerja untuk PLN – ia tidak sekedar mengulik kabel, namun sejatinya ia bekerja untuk menerangi negeri ini. Seorang operator di Telkomsel mungkin tidak hanya sekedar memelihara menara BTS, namun ia punya tujuan mulia : membuat anak bangsa dari Sabang ke Merauke bisa saling berkomunikasi. Tujuan kerja yang penuh kemuliaan inilah yang akan memberi lentingan spesial bagi kita untuk merajut puncak keunggulan (peak performance).
BELAJAR DARI BANGSA JEPANG
Tujuh hari sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia, tepatnya tanggal 8 Agustus 1945, Jepang luluh lantak karena dua kota utama mereka yakni Hiroshima dan Nagasaki dibom atom oleh pasukan Amerika Serikat (AS) pada Perang Dunia II. Kehancuran dan kekalahan perang tersebut tidak membuat Jepang ‘mati’ lalu menghilang dari peradaban dunia. Sejarah mencatat kebangkitan Jepang yang luar biasa hanya dalam kurun waktu 20 tahun. Mereka berhasil membangun kembali negaranya dari sisa-sisa keruntuhan dan kehancuran. Untuk itu, mereka mampu bekerja untuk waktu yang panjang tanpa mengenal lelah, bosan, dan putus asa.
Keberhasilan bangsa Jepang dalam membangun negerinya yang luluh lantak tersebut tidak lepas dari budaya kerja berkualitas tinggi yang telah tertanam dalam setiap diri masyarakat Jepang. Kini, cara kerja, budaya dan pandangan masyarakat Jepang menjadi contoh praktis yang sangat baik yang menginspirasi jutaan orang di berbagai belahan dunia untuk mendapatkan kinerja terbaik. Berikut adalah diantara budaya bangsa Jepang yang sangat positif :
1. Menghargai Waktu.
Masyarakat Jepang sangat menghargai waktu. Hal tersebut dapat dilihat dari cara mereka berjalan yang terlihat selalu terburu-buru. Seperti mengisyaratkan ingin segera sampai di tempat kerja dan berproduksi. Dalam melakukan perjanjian, mereka selalu tepat waktu bahkan datang sebelum jam yang dijanjikan.
2. Kerja Keras
Rata-rata jam kerja pegawai di Jepang adalah 2.450 jam/tahun. Jumlah tersebut sangat tinggi bahkan jika dibandingkan dengan jam kerja di Amerika (1.957 jam/tahun), Jerman (1.870 jam/tahun), Perancis (1680 jam/tahun).
Seorang pegawai di Jepang bisa menghasilkan sebuah mobil dalam 9 hari kerja, sedangkan Negara lain membutuhkan waktu 47 hari untuk menghasilkan dengan kualitas yang sama. Bangsa Jepang juga terkenal tidak pernah bertemu matahari, karena berangkat kerja sebelum matahari terbit dan pulang setelah matahari tenggelam. Ini menunjukkan betapa mereka sangat berdedikasi pada pekerjaannya.
3. Malu
Malu adalah budaya yang hingga kini masih dipegang erat oleh Bangsa Jepang. Harakiri yang terkenal di era samurai, ‘disesuaikan’ dengan kondisi modern dengan tindakan meletakkan jabatan ketika gagal dalam tugas atau ditemukan melakukan penyelewengan, korupsi, misalnya.
4. Bersih, Rapi dan Teratur
Konon, tinggal di Jepang amatlah nyaman. Hal tersebut karena masyarakatnya terbiasa tertib : membuang sampah pada tempatnya, dan ketika menunggu otomatis membentuk barisan antrian yang rapi, tidak ada usaha untuk saling mendahului yang biasanya akan membuat ketidakteraturan.
5. Hidup Hemat dan sederhana
Konsumerisme bukanlah bagian dari masyarakat Jepang. Mereka sangat hemat. Mereka lebih memilih menggunakan transportasi umum daripada memiliki kendaraan pribadi. Seorang professor di Jepang juga biasa naik sepeda tua ke kampus bersama-sama dengan mahasiswanya. Selain itu, pembelian suatu barang bagi masyarakat Jepang harus sesuai kebutuhan dan fungsinya. Karenanya mereka tidak mudah tergoda membeli hanya karena iklan yang terus-menerus menjerat konsumen.
Soichiro, sang pendiri Honda Motor, bekerja mengenakan seragam yang dikenakan pegawai biasa lainnya, kemeja dan topi putih. Anak buahnya diberikan kepercayaan total dan tanggung jawab pribadi terhadap apa yang dihasilkannya.
Soichiro tidak memiliki harta pribadi, dan tinggal di rumah yang sederhana. Penghasilannya digunakan untuk penelitian dan beasiswa kaum muda. Bahkan untuk anak-anaknya dia tidak meninggalkan warisan. “Warisan paling berharga yang dapat saya berikan adalah membiarkan mereka sanggup berusaha sendiri” begitu pendiriannya.
6. Inovasi
Bangsa Jepang bukanlah bangsa penemu. Namun mereka pandai meracik temuan orang lain dan memproduksi ulang dengan desain, kualitas, harga dan pemasaran yang lebih menarik. Motivator Tung Desem Waringin menyebut konsep tersebut dengan ATM (Amati, Tiru dan Modifikasi).
7. Pantang Menyerah
Japang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Indonesia dalam hal kekayaan alam. Kalau Indonesia menghentikan pasokan minyak bumi ke Jepang, maka 30% wilayah Jepang akan menjadi gelap gulita. Namun, mereka tidak berpangku tangan dan meratapi kondisi alamnya yang miskin. Mereka berjuang menggunakan berbagai sumber daya yang ada untuk mengubah kekurangan mereka menjadi kelebihan.
8. Budaya Baca
Masyarakat Jepang sangat gemar membaca. Setiap waktu diupayakan untuk membaca. Di dalam kereta listrik (densha) pun hampir setiap penumpang dari anak-anak hingga mereka yang telah renta, baik yang duduk maupun yang berdiri, melakukan aktivitas yang sama yaitu membaca. Entah membaca buku maupun koran. Kegemaran membaca bagi masyarakat Jepang tersebut didorong oleh inovasi buku bergambar (manga). Selain itu kecepatan translasi (menterjemahkan) buku-buku asing turut mendorong budaya baca bangsa Jepang. Buku terjemahan Jepang sudah tersedia hanya beberapa minggu sejak buku aslinya diterbitkan.
Ishizawa Takeshi dari Unoversitas Tokyo juga mencatat ciri-ciri etos kerja dan budaya kerja bangsa Jepang, sebagai berikut :
1. Bekerja untuk kesenangan, bukan semata untuk gaji
Tentu saja orang Jepang tidak bekerja tanpa gaji atau dengan gaji yang rendah. Tetapi dengan gaji yang sesuai, mereka begitu menikmati pekerjaannya. Jika mereka ditanya, “seandainya Anda menjadi milyuner, apakah Anda akan berhenti bekerja?” kebanyakan orang Jepang akan menjawab, “Saya akan terus bekerja.”
Bagi orang Jepang, bekerja seperti bermain. Karenanya mereka begitu terobsesi terhadap pekerjaannya, bahkan lupa pulang ke rumah. Fenomena ini sering disebut “workaholic”.
2. Mendewakan Pelanggan
Bagi bangsa Jepang dikenal sebuah ungkapan “Oyaku sama ha kamisama desu” (pelanggan adalah tuhan). Ungkapan ini sudah menjadi motto bisnis bangsa Jepang. Karenanya sedapat mungkin mereka berusaha mewujudkan keinginan pelanggan, serta berupaya mengembangkan hubungan erat dan panjang dengan pelanggan.
3. Bisnis adalah perang
Bangsa Jepang menganggap bisnis sebagai perang melawan perusahaan lain. Karenanya mereka secara serius memikirkan strategi, langkah dan eksekusi agar mampu memenangkan peperangan. Orang Jepang suka membaca buku ajaran Sun Tzu untuk belajar strategi bisnis. Sun Tzu adalah sebuah buku ilmu militer Tiongkok kuno, pada abad 4 SM. Kedisiplinan adalah bagian yang ditekankan dalam buku ini, dan dibentuk dengan cara yang sangat keras. Karenanya dalam era modern, bangsa Jepang berupaya mengajarkan disiplin sejak di sekolah dasar, seperti tidak terlambat masuk sekolah dan mengikuti pelajaran dengan rajin.
PENUTUP
Tiada pilihan lain bagi pekerja yang ingin sukses dalam karirnya kecuali menunjukkan kinerja terbaik setiap saat. Mengetahui orientasi bekerja, memahami bahwa bekerja adalah bagian dari ibadah, mengarahkan fokus pikiran pada hal-hal positif yang menunjang peningkatan kualitas kinerja serta mengambil pelajaran dari budaya kerja bangsa Jepang adalah bentuk upaya yang dapat dilakukan untuk mendapatkan kualitas kinerja terbaik. Selamat bekerja!
REFERENSI
Antariksa, Yodhia, 2011, “3 Cara Ampuh Untuk Merajut Peak Performance”
Antariksa, Yodhia, 2008, “Law of Attraction : You Can If You Think You Can”
Kasali, Rhenald, 2005, “Re-code Your Change DNA”
Motivasi Kerja Dalam Islam, www.motivasiislami.com
Pengaruh Motivasi dan Kepuasan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan, http://duniabaca.com/pengaruh-motivasi-dan-kepuasan-kerja-terhadap-kinerja-karyawan.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar