Sabtu, 25 Juni 2011

Menanti Quantum Jepang (lagi)

Menanti Quantum Jepang (lagi)
oleh :
DINO ARIES FAHRIZAL

Tahun 1945 pukul 08.15, tujuh hari sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia, Jepang luluh lantak karena dua kota mereka yakni Hiroshima dan Nagasaki dibom atom oleh pasukan Amerika Serikat (AS) pada Perang Dunia II. Kehancuran, dan kekalahan perang tersebut ternyata tak membuat Jepang mundur. Sejarah mencatat kebangkitan Jepang yang luar biasa dalam kurun kurang dari 20 tahun. Kemudian cara kerja, budaya, cara pandang masyarakat Jepang menjadi inspirasi jutaan orang di berbagai belahan dunia.
Diantara budaya Jepang yang sangat positif adalah :
1. Menghargai waktu
Masyarakat Jepang sangat menghargai waktu. Hal tersebut dapat dilihat dari cara mereka berjalan, seolah selalu terburu-buru, seakan tak ingin berlama-lama tanpa melakukan hal bermanfaat. Hampir semua orang jepang memakai jam tangan ke mana pun, agar mereka dapat terus berdisipli dengan waktu. Walaupun jam tangan mereka tak semuanya terbuat dari logam, namun mereka anti ‘ngaret’. Kita..????
2. Kerja Keras
Rata-rata jam kerja pegaawai di jepang adalah 2450 jam/tahun. Sangat tinggi bahkan jika dibandingkan dengan Amerika (1957 jam/tahun), Inggris (1911 jam/tahun), Jerman (1870 jam/tahun), Perancis (1680 jam/tahun), Indonesia (hmmmm berapa ya….?).
Seorang pegawai di Jepang bisa menghasilkan sebuah mobil dalam 9 hari, yang dilakukan di Negara lain dalam 47 hari untuk kualitas yang sama. Pulang cepat dalam bekerja dapat dikatakan ‘agak memalukan’ di Jepang. Indonesia..?hiksss…hiksss.
3. Malu
Malu adalah budaya yang hingga kini masih dipegang erat. Harakiri di era samurai, ‘disesuaikan’ dengan kondisi modern dengan fenomena meletakkan jabatan ketika gagal dalam tugas atau kedapatan melakukan penyelewengan, korupsi, misalnya. Indonesia..??? dah korupsi dan dipenjara nggak mau mundur juga. Bahkan mau mencalonkan diri lagi untuk menjabat..weleh..welehh..tobat…..
4. Bersih, rapi dan teratur
Walaupun belum pernah ke Jepang, namun pengalaman orang-orang yang bercerita melalui tulisan, menggambarkan betapa nyaman tinggal di Jepang. Jalanan bersih, buang sampah tertib, dan dalam menunggu, otomatis membentuk barisan antrian yang rapi.
5. Hidup hemat
Konsumerisme adalah bagian yang dapat dikatakan bukan cirri masyarakat Jepang. Mereka sangat hemat. Masyarakatnya lebih memilih menggunakan transportasi umum daripada memiliki kendaraan pribadi. Seorang professor di Jepang juga biasa naik sepeda tua ke kampus bersama-sama dengan mahasiswanya. Great!
6. Inovasi
Konon, Jepang bukanlah bangsa penemu. Namun mereka pandai meracik temuan orang lain, dan memproduksi ulang dengan desain, kualitas, harga dan pemasaran yang lebih menarik. Konsep ini dapat disebut ATM (Amati, Tiru, Modifikasi).
7. Pantang menyerah
Jepang barangkali tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Indonesia dari segi kekayaan alam. Kalau Indonesia menghentikan pasokan minyak bumi, 30% Jepang akan menjadi gelap gulita. Namun, mereka tidak berpangku tangan dan meratapi kondisi alamnya. Mereka berjuang menggunakan berbagai sumber daya yang dapat dioptimalkan.
Lihatlah pasca bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, disusul gempa bumi besar di Tokyo, tak membuat Jepang lemah. Tak perlu menunggu lama untuk melihat kebangkitan mereka, dalam beberapa tahun setelahnya mereka sudah berhasil membangun industry otomotif dan kereta cepat (Shinkansen) dan segera masuk dalam Negara dengan perekonomian kuat.
8. Budaya Baca
Setiap waktu diupayakan untuk membaca. Di dalam kereta listrik (densha) pun hampir setiap penumpang dari anak-anak hingga mereka yang telah renta, baik yang duduk maupun yang berdiri, membaca buku atau Koran. Selain inovasi buku bergambar (manga) kecepatan dalam translasi buku-buku asing turut mendorong budaya baca bangsa Jepang. Konon buku terjemahan Jepang sudah tersedia hanya beberapa minggu sejak buku aslinya diterbitkan. Luar biasa.

Beberapa waktu yang lalu, musibah kembali menimpa masyarakat Jepang. Kali ini bukan bom atom, tetapi gempa 8,9 Skala Richter (SR) dan tsunami hingga 10 meter. Ribuan jiwa melayang dan sejumlah infrastruktur utama rusak. Kita turut berduka atas musibah tersebut.
Kini menanti lompatan apalagi yang dilakukan bangsa jepang pasca musibah ini.
Semoga pula kesuksesan Jepang menginspirasi kita, orang muda, bangsa Indonesia.

Sumber bacaan :
http://takealeak.wordpress.com/2008/11/19/belajar-dari-jepang/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar