Senin, 24 September 2012

ISU TERORISME : UPAYA PEMBUSUKAN TERHADAP ISLAM

Isu terorisme terus saja bergulir. Dan telah ter-stigma di masyarakat melalui pemberitaan yang massif bahwa pelaku terorisme adalah mereka yang memiliki nama berbahasa Arab, berjanggut, bacaannya adalah buku-buku jihad. Khalayak pun mahfum bahwa tidak ada pelaku terror di dunia ini kecuali mereka yang selama ini masuk dalam pemberitaan yang massif tersebut. Padahal di luar sana terjadi pembunuhan massal dan berkelanjutan, namun pelakunya tidak pernah diberitakan sebagai teroris.

Isu terorisme yang secara langsung maupun tidak langsung menunjuk kepada Islam, santer terdengar mulai satu dekade ke belakang. Sebelumnya, tidak pernah terdengar umat Islam mengganggu kepercayaan di luar Islam, terlebih secara terorganisir mencelakai masyarakat sipil. Maka, pertanyaannya adalah mengapa isu terorisme ini muncul, dan siapa sasarannya?

Menjawab pertanyaan itu lebih dalam, biarlah menjadi tugas para pakar di bidangnya. Namun, dari perkembangan isu terorisme hingga hari ini, maka dapat disimpulkan secara sederhana sasarannya adalah dunia Islam.

BOLA LIAR ISU TERORISME

Melihat perkembangan isu terorisme terkadang muncul perasaan sedih, sekaligus juga geli. Sedih karena, banyak orang tak bersalah menjadi korban, yaitu pelaku dan korban itu sendiri. Kedua, geli karena banyak hal yang tak wajar. Diantaranya adalah dalam setiap aksi teror selalu ditemukan buku Jihad. Seolah-olah ingin menyampaikan kepada publik bahwa jihad itu buruk. Padahal dalam sejarah, kemerdekaan Indonesia direbut dengan pekikan takbir orang-orang yang berjihad. Para pejuang dan pahlawan nasional selalu menggelorakan perjuangan merebut kemerdekaan dari para penjajah dengan semangat jihad. Hanya orang-orang munafik yang berpura-pura lupa bagaimana sejarah bercerita tentang proses merebut kemerdekaan Indonesia.

Kalau memang selalu ditemukan buku jihad pada setiap aksi terorisme, sebutkan saja siapa pengarangnya dan penerbitnya. Jika isinya memang menyimpang, mengapa tidak pernah ada pencekalan?

Pemegang bola liar isu terorisme tampaknya sudah tidak sabar agar guliran bola ini sampai pada sasaran, yaitu agar Islam menjadi buruk di mata dunia dan akhirnya tidak dapat berkembang. Maka, muncullah logika-logika yang mulai tak wajar dalam upaya yang disebut penanggulangan terorisme. Beberapa waktu lalu muncul wacana sertifikasi ulama. Logika yang digunakan tentu tergesa-gesa, dengan dalih Singapura dan Malaysia telah melakukannya. Pertanyaannya, mengapa hanya ulama?

Yang terakhir adalah adanya pemberitaan di salah satu televisi swasta nasional yang mewartakan bahwa Kerohanian Islam (Rohis) merupakan sarana kaderisasi teroris. Meskipun tidak secara gamblang menyebut Rohis, namun tidak ada program ekstrakurikuler sekolah lain yang ada di masjid, kecuali Rohis. Sedangkan Rohis selama ini menjadi wadah pembinaan karakter dan mental para remaja agar memilik akhlak dan perilaku yang baik.

Munculnya pemberitaan ini, bahkan katanya didahului dengan penelitian, menunjukkan betapa kesimpulan yang diambil tidak lagi menggunakan kaidah logika yang lurus. Namun sangat memaksa, bagaimana pun caranya agar semua kegiatan keislaman dapat terlihat buruk.

Logika sederhananya begini, selama isu terorisme ini bergulir, tidak pernah dijelaskan para pelaku pernah menjadi anggota Rohis sekolah atau universitas tertentu. Kemudian tiba-tiba, ada sebuah kesimpulan yang menyatakan Rohis adalah sarana kaderisasi teroris. Jelas tidak nyambung premis-premis hingga kesimpulannya. Kalau pun ada pelaku teror yang pernah menjadi anggota ROHIS, bukan berarti semua anggota Rohis buruk. Seperti alumni sebuah universitas melakukan korupsi, dapatkah dikatakan universitas itu sarana kaderisasi koruptor? Sebuah pengambilan kesimpulan yang cacat dan sangat tergesa-gesa.

Di berbagai belahan dunia, Muslim tertindas dan teraniaya. Dan kini isu terorisme justru diarahkan kepada dunia Islam. Sebuah tindakan yang tak dapat dibenarkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar